Y Hadiprakarsa

Mengelola kepustakaan?

In Mac, scholar, UGA on February 7, 2008 at 10:48 am
Workflow working with reference
Workflow mengelola kepustakaan

Dulu ketika menulis skripsi, proses kepustakaan seperti mencari sumber pustaka, membuat citasi (citation) beserta daftar pustakanya (reference list) merupakan pekerjaan yang menjemukan dan memakan banyak waktu!. “Kenapa ?” karena kita harus mencari pustaka yang sesuai di berbagai sumber yang tersebar, kemudian memasukannya kedalam manuskrip dan harus dipastikan setiap citasi yang dipergunakan tercantum di daftar pustaka yang biasanya terletak di belakang. Sialnya format dan stylenya pun harus di periksa satu persatu supaya sesuai dengan format yang di tentukan oleh pihak Universitas. Nah, dibagian terkahir inilah yang paling menjengkelkan karena saya harus memeriksa setiap titik, koma dan spasi di setiap pustaka yang saya gunakan. Meski sudah memicingkan mata dan diperiksa berkali-kali, masih saja ada yang salah. Proses menjemukan ini pun masih berlangsung ketika saya sudah mulai bekerja, untuk laporan kerja atau menulis artikel ilmiah untuk di publikasikan dalam jurnal. Sampai akhirnya sudah satu tahun ini saya menemukan cara yang sangat membantu sekali dalam proses membuat citasi beserta mengelola sumber pustakanya, berikut alur kerja yang saya pergunakan:

STOP PRESS: Ketika tulisan ini masih dalam pengerjaan, eh tauknya rekan saya ini sudah menulis hal yang serupa! huuuuhh keduluan euy! jadi terpacu deh untuk menyelesaikan artikelnya… jadi saling melengkapi :D

Saya ini orangnya berusaha mempermudah pekerjaan, oleh karena itu bagian terpenting dalam alur kepustakaan saya adalah membangun basis data kepustakaan (reference database) menggunakan perangkat lunak Bibliography Manager, namun kalo berhubungan dengan banyak sumber yah..repot juga harus memasukan setiap entry secara manual. Nah….supaya seragam, saya mengandalkan fungsi canggih dari Google Schoolar. Sebagai tambahan dari tulisan di sini, kalau perpustakaan di universitas anda sudah online dan terdaftar di Google Schoolar, sistem pencarian ini pun bisa berlanjut masuk kedalam basis data perpustakaan universitas jadi nggak perlu repot melakukan pencarian di berbagai database cukup dengan Google Scholar :D .

bibdesk2.jpg
Screenshot sekilas features BibDesk

Selain kehandalan dalam pencarian kepustakaan, Google Scholar juga bisa membantu dalam menyiapkan citasi dari hasil pencarian kita untuk siap di masukan kedalam aplikasi Bibliography Manager seperti EndNote, BibTex, RefMan, RefWorks dan WenXianWang (yang terkahir ini mungkin khusus untuk referensi berbahasa China kali yah? :P ). Nah…daripada memasukan entry secara manual, saya mengandalkan Google Schoolar dengan format citasi BibTex untuk secara otomatis masuk kedalam aplikasi Bibliography Manager, untuk itu saya menggunakan BibDesk! .

Bagi anda pengguna Windows PC (mungkin pengguna Mac juga?), mungkin belum pernah mendengar software Bibliography Manager yang bernama BibDesk ini, wajar saja karena software ini di peruntukan buat pengguna Mac seperti saya ;) . “Kenapa BibDesk?” banyak alasan saya menggunakan aplikasi ini:

1. GRATIS!! yup aplikasi ini merupakan kolaborasi para scholar geek dalam menciptakan Bibliography Manager yang handal dan gratis

Bibdesk features1
Screenshot fasilitas direct search and importing citation dari GS

2. Seperti yang saya sampaikan sekilas di atas, BibDesk mampu memasukan citasi hasil pencarian dari Google Scholar hanya dengan satu click!. Betul loohh, didalam BibDesk sudah terintegrasi internet browser yang bisa extract hasil pencarian kepustakaan dari Google Schoolar, jadi setelah kita menemukan kepustakaan yang kita inginkan cukup tekan IMPORT!…voila…masuk deh ke BibDesk dengan format seragam ;) . Untuk gambaran coba deh perbesar screenshot di sebelah ini.

3. Mempunyai fungsi pengelolaan dokumen elektornik yang bagus. Dengan cukup drag and drop saja, kita bisa memasukan dokumen elektronik (e.g. pdf, jpg, chm, djvu etc) kedalam kepustakaan kita. Kemudian, secara otomatis BibDesk akan memberikan filename yang unik terhadap file tersebut dan otomatis pula dikumpulkan kedalam satu folder yang telah di tentukan sebelumnya. Jadi gak tercecer di mana-mana dan link langsung dengan citasinya. “Belum cukup?”…dengan menggunakan script khusus dan langganan di sumber kepustakaan, BibDesk mampu mengunduh (Download) jurnal ilmiah dalam format PDF secara otomatis!…sip kan? :D

4. Memiliki 14 macam format untuk export ke Bibliography Manager lain. Memberikan fleksibilitas bekerja dengan bermacam-macam Bibliography Manager. Bahkan bisa juga export langsung kedalam format html atau rss! (silahkan unduh di sini kalau mau lihat contoh hasil export ke html).

5. Mempunyai live search! ketika saya baru memasukan beberapa character pencarian di kolom yang di sediakan, BibDesk langsung menampilkan secara otomatis, tidak perlu di perintah untuk mencari.

6. Masih banyak lagi kelebihannya deh :D

Namun, dari kelebihan yang saya sebutkan ada juga kelemahannya, BibDesk belum dapat memberikan kemudahan ketika akan memadukan kepustakaan di dalamnya dengan word processor yang saya pakai. Sampai saat ini fasilitas Cite While You Write dari BibDesk baru bisa berjalan dengan mudah jika menggunakan aplikasi Tex. ( sumpeh deh gak simpel pake Tex mah :( ). Oleh karena itu, saya menggunakan fasilitas Cite While You Write dari EndNote, untungnya aplikasi ini bisa saya dapatkan secara gratis melalui site license dari UGA Library. (Lumayan deh bisa hemat $250 :D )

Sebetulnya, EndNote juga merupakan Bibliography Manager namun saya masih memilih BibDesk untk mengelola kepustakaan saya yang baru mendekati 600. Walhasil saya harus sering export dari BibDesk untuk memperbaharui kepustakaan di EndNote, tak apalah :p . Di EndNote saya hanya menggunakan fasilitas Cite While You Write yang secara otomatis akan terintegrasi dengan Microsoft Word (kecuali belum untuk MS Word 2008 for Mac). Dengan fasilitas ini, dengan mudah saya bisa memasukan citasi kedalam tulisan yang kemudian secara otomatis akan di buatkan daftar kepustakaannya (reference list) dengan format yang kita inginkan. Sebagai informasi, di EndNote terdapat hampir 3000 style format citasi dari berbagai jurnal! jadi saya tinggal memilih style yang sesuai dengan manuskrip yang saya kerjakan. Cihuyyyyy….. gak pusing lagi deh!

Meski saya membahas secara spesifik dalam lingkungan Mac, namun saya yakin alur kerjanya sama kalau ingin di terapkan di lingkungan Windows or Linux sekalipun, tinggal menemukan Bibliography Manager Software yang tepat dan konsisten dalam mengelolanya. Gimana dengan anda?

Catatan: Banyak sekali Bibliography Manager atau Reference Management Software, namun anda sendiri yang harus menentukan karena setiap pengguna memiliki kebutuhan berbeda. Sebagai langkah awal coba lihat silahkan pelajari Comparison of reference management software dari Wikipedia.

Advertisement
  1. walah…. kalo gitu saya cuma kebagian nulis tentang ‘lab geek’ dong yak :p

  2. Waaah, jadi Cite-while-you-write harus ada license….? :P

  3. Worth a try. Mbak Nurul, “kita minta sf-nya sekalian di Yoki plus licensenya…” Bisa gak Yok?

  4. Nice… seperti berguna dengan yang yoki inginkan.

  5. wah sgt berguna ini… tq infonya jah ;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.